Senin, 06 Juli 2009

Baduy Rentan Terbakar

Budaya Baduy memang pantas untuk di pertahankan... tapi jika budaya itu kerap menimbulkan bencana besar, apakah tetap pantas di lestarikan. Nyatanya sudah kesekian kalinya perkampungan Baduy kerap terbakar si jago merah akibat warganya kerap memasak tungku di atas balai depan rumah dengan menggunakan perapian kayu bakar.
Apakah ini memang budaya, ataukah hanyalah ego belaka. Namun yang pasti warga Baduy tetap tidak mau mendengarkan himbauan pemerintah walaupun desa mereka kerap di landa bencana. Mereka menganggap semua bencana merupakan takdir Tuhan, dan secara spiritual memang benar adanya.
Tapi jika itu merupakan hasil kelalaian manusia, bukankah kita masih mampu mencegah terjadinya bencana itu. Warga Baduy kerap memasak di sore hari di atas balai depan rumah sambil kumpul-kumpul bareng tetangga. Hanya dengan di lapisi tanah, warga menggunakan kayu kering dari hutan sebagai bahan bakar memasak, dan kayu itu di bakar di atas balai yang juga terbuat dari bahan "Bambu Kering".
Kampung Balingbing Desa Kanekes Baduy sudah menjadi contoh amukan si Jago Merah akibat budaya itu. Dimana pada tanggal 17 Maret 2009, sebanyak 88 Jiwa atau 26 Kepala Keluraga kehilangan rumahnya akibat bencana itu. Namun warga baduy masih tetap saja melakukan kebiasaan ini, termasuk warga Kampung Balingbing.
Yah... memang sudah seharusnya begitu barangkali... dan mungkin itu pun salah satu daya tarik Baduy, sebagai perkampungan karuhun Banten yang "MENOLAK" pengaruh dari luar.

2 Komentar:

Blogger Raka Rifqi Amaterasu mengatakan...

iraha ka Baduy na ieu Quy?

7 Juli 2009 pukul 10.46  
Blogger D'SIGIT mengatakan...

keur baheula chuy...

17 Juli 2009 pukul 22.20  

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda